welcome to stargirlzone

welcome to stargirlzone ^^

Selasa, 26 Juli 2011

Makalah Pemanasan Global

BAB 1
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Sumber daya alam seperti air, udara, tanah, hutan dan lainnya merupakan sumber daya yang penting bagi kelangsungan hidup mahkluk hidup termasuk manusia. Bahkan sumber daya alam ini tidak hanya mencukupi kebutuhan hidup manusia, tetapi juga dapat memberikan kontribusi besar terhadap kesejahteraan yang lebih luas. Namun, semua itu bergantung pada bagaimana pengelolaan sumber daya alam tersebut, karena pengelolaan yang buruk berdampak pada kerugian yang akan ditimbulkan dari keberadaan sumber daya alam, misalnya dalam bentuk banjir, pencemaran air, dan sebagainya (Soedradjat, 1999).
Pemanasan global merupakan isu yang sedang hangat akhir-akhir abad ini. Permasalahan lingkungan dengan sebab yang komplek ini seolah tidak pernah menemui jalan keluarnya. Justru masalah ini semakin memburuk dari hari ke hari. Sebab permasalannya pun semakin meningkat meskipun manusia telah berusaha untuk memecahkan masalah lingkungan ini. Usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan kerusakan-kerusakan yang terjadi. Aturan-aturan yang dibuat pun hanya belum dapat dijalankan secara konsekuen. Hingga sampai saat ini usaha-usaha itu belum menunjukkan hasil yang positif (Yudhi, 2008).
Masalah lingkungan yang dihadapi dewasa ini pada dasarnya adalah masalah ekologi manusia. Masalah itu timbul karena perubahan lingkungan yang menyebabkan lingkungan itu kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan manusia. Jika hal ini tidak segera diatasi maka akan berdampak terhadap kesejahteraan hidup manusia. Kerusakan lingkungan yang terjadi dikarenakan eksflorasi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Kerusakan lingkungan ini telah mengganggu proses alam, sehingga banyak fungsi ekologi alam terganggu.
Masalah lingkungan tidak berdiri sendiri, tetapi selalu saling terkait erat. Keterkaitan antara masalah satu dengan yang lain disebabkan karena sebuah faktor merupakan sebab berbagai masalah, sebuah faktor mempunyai pengaruh yang berbeda dan interaksi antar berbagai masalah dan dampak yang ditimbulkan bersifat kumulatif. Masalah lingkungan yang saling terkait erat antara lain adalah populasi manusia yang berlebih, polusi, penurunan jumlah sumberdaya, perubahan lingkungan global dan perang (Soedradjat, 1999).
Masalah-masalah di atas telah mendorong kami untuk membuat makalah tentang pengelolaan lingkungan hidup dengan judul “pemanasan global”. Di sini akan diuraikan mengenai apa itu pemanasan global, penyebab pemanaan global, dampak serta beberapa solusi untuk memecahkan masalah pemanasan global.
II. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang di atas maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa itu pemanasan global?
2. Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan pemanasan global?
3. Bagaimana dampak pemanasan global?
4. Usaha apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi pemanasan global?







BAB 2
ISI
I. Kajian Pustaka
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Temperatur rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.18 A0C selama seratus tahun terakhir. Intergrovemental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca (IPPC, 2001).
Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan. Sebagian besar pemerintah negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca (Anonim, 2011).

II. ANALISIS MASALAH
a. Penyebab Pemanasan Global
Beberapa hal yang dapat menyebabkan pemanasan global antara lain:
1. Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek dan ketika mengenai permukaan bumi akan berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun, sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi.
Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya (Anonim, 2011).
Gas rumah kaca adalah suatu efek dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer bumi bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, jika tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka bumi ini.
Pada sekitar tahun 1820, Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya matahari yang masuk ke permukaan bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi infra-merah yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).
Tiga puluh tahun kemudian, Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbondioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbondioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.
Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan temperatur. Jika konsentrasi karbondioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.
Tetapi atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa atmosfer yang ada menjadi lebih panas dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar (Graedal, 1989).
Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 – yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.
Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi matahari dan keseluruhan permukaan bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai Radiative Forcing sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusialah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global (Anonim, 2011).
Karbondioksida (CO2) adalah penyumbang utama gas kaca. Dari masa pra-industri yang sebesar 280 ppm menjadi 379 ppm pada tahun 2005. Angka ini melebihi angka alamiah dari studi perubahan iklim dari masa lalu (paleoklimatologi), dimana selama 650 ribu tahun hanya terjadi peningkatan dari 180-300 ppm. Terutama dalam dasawarsa terakhir (1995-2005), tercatat peningkatan konsentrasi karbon-dioksida terbesar pertahun (1,9 ppm per tahun), jauh lebih besar dari pengukuran atmosfer pada tahun 1960, (1.4 ppm per tahun), kendati masih terdapat variasi tahun per tahun.
Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbondioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 – 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N2O) dari 270 ppb – 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.
Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya matahari (albedo), akibat perubahan permukaan bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar matahari tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global (Winarso, 2009).
2. Efek Umpan Balik
Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Contoh efek umpan balik antara lain pada penguapan air dan pada hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es.
Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti , pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Uap air merupakan gas rumah kaca sehingga pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas sendiri. Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Pada kasus lain, ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan es dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan (KLH, 1992).



3. Variasi matahari
Terdapat hipotesa yang mengatakan bahwa variasi dari matahari dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960 yang tidak akan terjadi bila aktivitas matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. Fenomena variasi matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950 serta efek pendinginan sejak tahun 1950 (Anonim, 2011).
b. Dampak Pemanasan Global
Beberapa dampak pemanasan global diantaranya:
1. Cuaca
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global daerah utara dari belahan bumi utara akan memanas dari daerah-daerah lain di bumi. Akibatanya, gunung gunung es akan mencair dan daraatan akan mengecil. Es yang akan terapung di perairan utara tersebut akan berkurang. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalami lagi pada pegunungan di daerah subtropis. Bagian yang ditutupi salju mungkin akan semakin sedikit dan mungkin akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Daerah hangat akan terlihat lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Kelembapan yang tinggi akan meningkatkan curah hujan. Sekitar rata rata sekitar 1 % untuk setiap derajat farenheit pemanasan. Badai akan lebih sering. Selain itu juga lebih akan menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan lebih kering dari sebelumnya dan angin yang bertiup lebih kencang atau dengan pola yang berbeda. Topan badai yang memperoleh kekuatannya dari air akan menjadi lebih besar berlawan dengan pemanasan yang terjadi beberapa periode yang sangat dingin sehingga pola cuaca tidak terprediksi dan lebih ekstrim (Graedal, 1989).
2. Tinggi Muka Laut
Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah yang lingkungannya stabil secara geologi ketika atmosfer menghangat. Lapisan permukaan lautan juga akan menghangat. Sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es dikutub, terutama sekitar Greenland. Yang memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20. Para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4- 35 inchi) pada abad ke-21. Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17.5 persen daerah Bangladesh dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing pantai dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan akan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya. Sedangkan Negara-negara miskin mungkin hanya melakukan evakuasi di daerah pantai, bahkan sedkit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Barat.
3. Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa bumi yang hangat akan menghasilkan makanan dari sebelumnya. Tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian selatan Kanada, contoh: mungkin akan mendapatkan untung dari lebih tingginya curah hujan dan lamanya masa tanam. Di lain pihak lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian afriak mungkin tidak dapat tumbuh. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan-seranggan dan penyakit yang lebih hebat.
4. Hewan dan Tumbuhan
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan merubah arah pertumbuhannya mencari daerah baru akibat terlalu hangat. Tapi pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
5. Kesehatan Manusia
Di daerah yang hangat para ilmuwan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan adalah di daerah tropis. Seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah dimana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria. Persentase itu akan meningkat menjadi 60% jika temperatur meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuwan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari (Falk dan Brownlow, 1989).
Beberapa contoh dampak nyata pemanasan global diantaranya:
1. Mencairnya es di kutub utara dan selatan
Pemanasan global berdampak langsung pada terus mencairnya es di daerah kutub utara dan kutub selatan. Es di Greenland yang telah mencair hampir mencapai 19 juta ton. Sedangkan volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada 4 tahun sebelumnya.
Mencairnya es saat ini berjalan jauh lebih cepat dari model-model prediksi yang pernah diciptakan oleh para ilmuwan. Beberapa prediksi awal yang pernah dibuat sebelumnya memperkirakan bahwa seluruh es di kutub akan lenyap pada tahun 2040 sampai 2100. Tetapi data es tahunan yang tercatat hingga tahun 2007 membuat mereka berpikir ulang mengenai model prediksi yang telah dibuat sebelumnya.
Menurut peneliti, bongkahan es berbentuk lempengan yang sangat besar itu mengambang permanen di sekitar 1.609 kilometer selatan Amerika Selatan, barat daya Semenanjung Antartika. Padahal diyakini bongkahan es itu berada di sana sejak 1.500 tahun lalu. Sekarang bongkahan es yang tersisa tinggal 1.950 kilometer persegi, ditambah 5,6 kilometer potongan es yang berdekatan dan meng-hubungkan dua pulau.
Antartika di Kutub Selatan adalah daratan benua dengan wilayah pegunungan dan danau berselimut es yang dikelilingi lautan. Benua ini jauh lebih dingin daripada Artik, sehingga lapisan es di sana sangat jarang meleleh, bahkan ada lapisan yang tidak pernah mencair dalam sejarah. Temperatur rata-ratanya -49 derajat Celsius, tapi pernah mencapai hampir -90 derajat celsius pada Juli 1983. Tak heran jika fenomena mencairnya es di benua yang mengandung hampir 90 % es di seluruh dunia itu mendapat perhatian serius peneliti.
2. Meningkatnya level permukaan laut
Mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan berdampak langsung pada naiknya level permukaan air laut. Para ahli memperkirakan apabila seluruh Greenland mencair, level permukaan laut akan naik sampai dengan 7 meter, cukup untuk meneng-gelamkan seluruh pantai, pelabuhan, dan dataran rendah di seluruh dunia.
3. Glombang Panas menjadi Semakin Ganas
Pemanasan Global mengakibatkan gelombang panas menjadi semakin sering terjadi dan semakin kuat. Tahun 2007 adalah tahun pemecahan rekor baru untuk suhu yang dicapai oleh gelombang panas yang biasa melanda Amerika Serikat.
Daerah St. George, Utah, memegang rekor tertinggi dengan suhu tertinggi mencapai 48°C. Suhu di St. George disusul oleh Las Vegas dan Nevada yang mencapai 47°C serta beberapa kota lain di Amerika Serikat yang rata-rata suhunya di atas 40°C. Suhu di daerah Death Valley di California juga sempat mencapai suhu 53°C.
Serangan gelombang panas kali ini bahkan memaksa pemerintah di beberapa negara bagian untuk mendeklarasikan status darurat siaga 1. Serangan tahun itu memakan beberapa korban meninggal (karena kepanasan), mematikan ratusan ikan air tawar, merusak hasil pertanian, memicu kebakaran hutan yang hebat, serta membunuh hewan-hewan ternak.
Pada tahun 2003, daerah Eropa Selatan juga pernah mendapat serangan gelombang panas hebat yang mengakibatkan tidak kurang dari 35.000 orang meninggal dunia dengan korban terbanyak dari Perancis (14.802 jiwa). Perancis merupakan negara dengan korban jiwa terbanyak karena tidak siapnya penduduk dan pemerintah setempat atas fenomena gelombang panas sebesar itu. Korban jiwa lainnya tersebar mulai dari Inggris, Italia, Portugal, Spanyol, dan negara-negara Eropa lainnya. Gelombang panas ini juga menyebabkan kekeringan parah dan kegagalan panen merata di daerah Eropa (Winarso, 2009).
4. Habisnya Gletser Sumber Air Bersih Dunia
Mencairnya gletser-gletser dunia mengancam ketersediaan air bersih, dan pada jangka panjang akan turut menyumbang peningkatan level air laut dunia. Gletser-gletser dunia saat ini mencair hingga titik yang mengkhawatirkan.
NASA mencatat bahwa sejak tahun 1960 hingga 2005 saja, jumlah gletser-gletser di berbagai belahan dunia yang hilang tidak kurang dari 8.000 meter kubik. Para ilmuwan NASA kini telah menyadari bahwa mencairnya gletser, es di kedua kutub bumi, meningkatnya temperatur bumi secara global, hingga meningkatnya level air laut merupakan bukti-bukti bahwa planet bumi sedang terus memanas (Yudhi, 2008).

III. PEMECAHAN MASALAH
Konsumsi total bahan bakar dan fosil di dunia selalu meningkat. Langkah-langkah yang sedang dilakukan atau yang sedang didiskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah berubahnya iklim di masa depan (Anonim, 2011).
Apabila benar kenaikan kadar gas rumah kaca akan menyebabkan pemanasan global, maka fenomena yang terjadi tidak dapat dihindari lagi, akan tetapi harus diatasi serta ditangani seraca cermat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, usaha pertama yang harus ditempuh adalah dengan mengurangi emisi karbon ke atmosfer; dengan demikian upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain; (a) menaikkan efesiensi penggunaan energi bahan bakar fosil; (b) mengikat dan mendaur ulang C02; (c) pengendalian pemanfaatan hutan secara tidak terkontrol; (d) peningkatan reboisasi dan penghijauan yang secara rinci diuraikan sebagai berikut:
1. Efesiensi Penggunakan Energi Bahan Bakar Fosil
Bahan bakar fosil, merupakan sumber cemaran CO2 terbesar, walaupun sebagian mampu diikat oleh jasa biologis pepohonan dalam proses fotosintesis. Namun demikian kandungan lainnya yang tercampur dengan bahan cemaran tersebut seperti aerosol, kadar debu dan kandungan kimiannya, cenderung meningkatkan gas rumah kaca.
Melalui kesadaran untuk efesiensi dalam penggunaan bahan bakar fosil, nampaknya merupakan alternatif yang dinilai positif. Kesadaran tersebut mulai muncul dengan perancangan pemanfaatan energi surya sebagai sumber penerangan dan atau kini sedang diuji pemanfaatanya untuk kepentingan otomotif.
2. Mengikat dan Mendaur Ulang CO2
Secara umum telah diketahui bahwa secara alamiah dalam kaitannya dengan CO2 terdapat dua proses yang berlawanan; yaitu proses fotosintesis dan pernafasan. Dalam proses fotosistensis hanya dapat dilakukan oleh hijau daun; dimana CO2 diolah menjadi gula dengan bantuan cahaya matahari sebagai sumber energinya. Sedangkan hasil samping yang diperoleh adalah O2 (oksigen). Selanjutnya gula dimanfaatkan untuk membentuk bagian dari tubuh tumbuhan (batang, akar dan daun), dengan demikian semakin banyak biomassa hijau, berarti pula semakin banyak CO2 yang diikat (diserap), demikian halnya dengan oksigen yang diproduksi.
Dalam proses pernafasan adalah sebaliknya; bahwa dalam tubuh memerlukan energi untuk pembakaran. Kedua proses tersebut berjalan bersamaan, dan secara alamiah bahwa hasil proses fotositesis lebih besar dibanding dengan proses pernafasan. Oleh karena itu jumlah CO2 yang diserap jauh lebih besar, berarti proses fotosintesis membantu dalam mengurangi jumlah CO2 pada atmosfer.
Jika menggunakan bahan bakar kayu untuk kepentingan rumah tangga dan atau lainnya, maka jumlah CO2 yang dihasilkan cukup besar. Dengan dalih bahwa kayu yang dimanfaatkan diimbangi dengan laju pertumbuhan hutan, maka besaran emisi CO2 di udara jumlahnya akan tetap dan tidak menjadi bertambah.
Sebuah aspek yang cukup menarik adalah pohon randu (Ceiba petandra), dulu dimanfaatkan sebagai pengisi kasur dan bantal; akan tetapi sekarang justru tersingkir oleh karet busa. Karet busa diproduksi dengan menggunakan CFC di pabrik, dan merupakan sumber ozon di stratosfer. Untuk itu mempromosikan kembali untuk menggunakan kasur dan bantal dengan kapuk merupakan cara yang sehat dan membantu mengurangi efek rumah kaca.
3. Pengendalian Pemanfaatan Hutan
Penebangan hutan yang tidak terkontrol, perladangan berpindah dan aktifitas perhutanan lainnya. Penebangan hutan selain mengurangi jumlah biomassa yang berperan sebagai pengikat CO2. Namun demikian akan dinilai wajar apabila terciptanya keseimbangan antara biomassa yang diproduksi dengan biomassa yang dibangun.
Perladangan berpindah seperti yang dilakukan oleh masyarakat nomadik di sekitar kawasan hutan, walaupun metode pendekatan bercocok tanamnya dengan cara melakukan pembakaran; akan tetapi cara-cara yang dilakukan secara tertib dan terkontrol; karena pembakaran dilakukan bertepatan menjelang 2-3 hari datangnya hujan, luasannya terbatas 0,5-1,5 ha, hingga cemaran CO2 cenderung dapat dikendalikan. Berbeda halnya dengan pembangunan hutan tanaman industri, dimana lahan yang dibuka relatif luas dan melakukan pembakaran yang tidak terkontrol hingga menyebabkan cemaran udara, yang cenderung mendukung terjadinya pemanasan global.
4. Peningkatan Reboisasi dan Penghijauan
Kegiatan ini selain memperbaiki kerusakan tanah, juga merupakan sumber oksigen yang diperoleh dari proses pengikatan (penyerapan) CO2 di alam bebas. Semakin luas implentasi reboisasi yang dibangun, berarti pula memberikan efektifitas terkendalinya efek rumah kaca.
Dalam kenyataanya bahwa kegiatan reboisasi dan atau penghijauan juga sering memanfaatkan pendekatan melalui pembakaran hutan. Cara-cara pembakaran yang menimbulkan polusi udara, nampaknya sudah mulai tidak lagi dilakukan. Dengan reboisasi dan penghijauan, selain memberikan manfaat terhadap pengendalian efek rumah kaca, juga bermanfaat dalam hal pemulihan dan peningkatan produktifitas lahan (Yudhi. 2008).
Beberapa cara lain untuk mencegah terjadinya pemanasan global:
a. Berhemat energi, seperti dalam penggunaan bahan bakar minyak, listrik (jangan memakai alat-alat elektronika jika tidak benar-benar dibutuhkan).
b. Menggunakan kendaraan bermotor seperlunya saja. Kalau hanya dekat tidak perlu mengenakan motor atau mobil.
c. Mengurangi pembakaran, misal pembakaran sampah, hindari pembakaran hutan.
d. Penghijauan hutan.
e. Hindari penggunaan barang secara mubazir.
f. Hindari perusakan karang untuk ekosistem laut, serta pencarian ikan dengan cara merusak (penggunaan bom atau semacamnya) (Anonim, 2011).






BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan
1. Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi.
2. Beberapa hal yang dapat menyebabkan pemanasan global antara lain efek rumah kaca, efek umpan balik dan variasi matahari.
3. Beberapa dampak dari pemanasan global adalah mencairnya es di kutub utara dan selatan, meningkatnya level permukaan laut, perubahan cuaca/ iklim yang semakin ekstrim, habisnya gletser sumber air bersih dunia, dan gelombang panas menjadi semakin ganas.
4. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mengurangi pemanasan global diantaranya: menaikkan efesiensi penggunaan energi bahan bakar fosil, mengikat dan mendaur ulang C02, pengendalian pemanfaatan hutan secara tidak terkontrol, dan peningkatan reboisasi dan penghijauan.
















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Pemanasan global termasuk pola muka bumi. http://ilmupedia. Com/akademik/ geografi/ 627- pemanasan - global-termasuk-pola- muka-bumi.html. Diakses 5 Juni 2011.
Anonim, 2011. Pengertian Pemanasan Global atau Global Warming. http://www. g-excess.com/ id/ pengertian-pemanasan-global-atau-global-warming.html. Diakses 6 Juni 2011.
Falk., J,. and Brownlow, 1989. The Greenhouse challenge. Penguin Books: Australia.
Graedal., TE,. 1989. The Changging Atmosfer. Scientific American.
IPPC (2001). Climate Change 2001 : Impacts, Adaption, and Vlnerabiliy, Summary for Policy Makers, Wirking Grup 1 3rd Assessment Report, Draft, http://www.usgcrp.ov/ipcc/htm/specerp.html. Diakses 8 Juni 2011.
KLH, 1992. Dampak Perubahan Iklim. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup: Jakarta.
Soedradjat, R. 1999. Lingkungan Hidup. Dikti, P & K. Jakarta. http://staff.ui.ac.id/ internal/131671356/publikasi/PemanasanGlobal.pdf. Diakses 6 Juni 2011.
Winarso, P.A. 2009. Modul Pemanasan dan Perubahan Iklim Global. Akademi Meteorologi dan Geofisika:Jakarta.
Yudhi. 2008. Pemanasan Global, Ancaman Terbesar Planet Bumi. http:// www.se jutablog.com/pemanasan-global-ancaman-terbesar-planet-bumi/. Diakses 6 Juni 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar